Sunday, June 14, 2009

LIMA SEKAWAN DI PULAU HARTA

Lima sekawan adalah George, Julian, Dick, Anne, dan Anjing George, Tim. Ini adalah petualangan pertama mereka.

Liburan sekolah, tiga bersaudara, Julian, Dick, dan Anne berlibur ke Teluk Kirrin, rumah paman mereka, Paman Quentin. Disana mereka berkenalan dengan anak Paman Quentin, Georgina. George, nama panggilannya.

Suatu sore, George mengajak ketiga sepupunya berdayung untuk melihat bangkai kapal karam milik George. Di tengah perjalanan, mereka melewati Pulau Kirrin. Pulau itu kepunyaan George. George berjanji akan mengajak ketiga sepupunya mengunjungi pulaunya lusa.

Setelah beberapa lama menikmati keindahan bangkai kapal karam, kelima sekawan itu kembali ke pondok kirrin. Namun, terlebih dahulu mereka pergi ke rumah Alf. Alf adalah anak nelayan yang ditugasi George merawat Tim.

Cuaca hari ini sangat cerah, seperti janjinya, George akan mengajak Julian dan kedua adiknya berdayung ke Pulau Kirrin. Ini hal mustahil yang dilakukan George. Karena sebelumnya belum pernah seorangpun ia ajak ke pulaunya. Maklum, George adalah anak tunggal yang lebih suka sendiri daripada berkawan. Walau begitu, George anak yang selalu berkata jujur, karena ia menganggap pembohong adalah pengecut.

Setelah berdayung melewati batu- batu karang yang menyesatkan, mereka sampai di Pulau Kirrin. Disana, banyak sekali kelinci- kelinci jinak dan burung- burung kormoran. Selain itu, juga ada puri tua yang sebagian bangunannya sudah runtuh.

Sebelum bertualang di Pulau Kirrin, terlebih dahulu George menaikkan perahunya ke sebuah bukit batu yang rendah dan jauh dari pesisir. Karena George tahu, sebentar lagi akan ada angin ribut.

Tak lama kemudian, bunyi guruh dan petir terdengar keras, kilat menyambar- nyambar, dan ombak yang sangat besar datang. Mereka resah, apalagi Anne. Ia tidak pernah melihat pemandangan yang begitu mengerikan.

Hujan lebat turun, mereka berteduh di satu- satunya ruangan di puri yang masih utuh. Mereka menyalakan api unggun yang kayunya mereka ambil di dasar menara puri. Mereka bergantian mengambil ranting- ranting kayu. Dan saat tiba giliran Julian, ia melihat ada sesuatu yang timbul tenggelam di laut dekat batu- batu karang. Karena merasa janggal, ia segera memberitahukannya pada sepupu dan kedua adiknya.

Setelah mendengar penjelasan singkat Julian, mereka kembali lagi ke tempat Julian melihat benda aneh tersebut. Mereka memandang benda itu dengan seksama, hingga benda itu terdampar di batu- batuan yang runcing.

Setelah itu, barulah mereka tahu bahwa benda aneh itu adalah sebuah kapal tua yang sangat besar. Tiba- tiba wajah George yang semula heran berubah cerah. Ternyata, kapal itu milik George. Ya, itulah bangkai kapal karam George yang dilihat Julian dan kedua adiknya kemarin lusa.

Tak lama kemudian, angin ribut berlalu. Perlahan matahari menampakkan dirinya. Mereka pun pulang ke Teluk Kirrin. Mereka masih terbayang- bayang kapal karam. Mereka membayangkan harta karun yang berlimpah dan segala sesuatu yang menarik di bangkai kapal George.

Keesokan harinya, saat terbitnya matahari, mereka bergegas pergi ke tempat dimana bangkai kapal karam terdampar. Karena tak ingin ada yang tahu, mereka pergi secara sembunyi- sembunyi dan hati- hati.

Mereka menelusuri setiap ruang di kapal. Namun, tak ada satupun benda yang mereka harapkan. Hanya ada tong- tong kosong, kaleng- kaleng bekas, dan kepiting yang ada di kapal berbau busuk itu. Mereka putus asa dan memutuskan untuk pulang.

Namun, tak sengaja Julian menemukan sebuah almari kecil di pojok salah satu ruang. George dan kedua adik kandungnya pun dipanggilnya.

Mereka mencoba membuka almari itu. Setelah berbagai cara mereka lakukan, akhirnya lemari bisa dibuka. Didalamnya menemukan peti tua bertuliskan H.J.K. Ternyata, H.J.K adalah singkatan nama dari kakek ibu George. Henry John Kirrin.

Mereka membawa pulang peti tua itu. Sesampainya di rumah, mereka mencoba membukanya, namun tidak bisa. Mereka pun sepakat akan menjatuhkan peti itu dari loteng atas.

Dan akhirnya peti berhasil terbuka. Karena suara benturan yang sangat keras, Paman Quentin menghampiri mereka dan marah- marah. Paman Quentin merampas peti itu dari mereka.

Julian berusaha mengambil peti itu. Untunglah saat itu Paman Quentin sedang tidur, jadi Julian lebih mudah mengambilnya. Setelah itu, segera ia bawa ke tempat George dan kedua adiknya.

Mereka membuka peti tua itu. Didalamnya terdapat buku catatan kakek ibu George dan lembaran kertas berwarna kuning.

Mereka mengamati lembaran itu. Tertera kata Ingots disitu. Dick mengatakan bahwa ingots adalah sebutan batang emas dalam bahasa inggris. Mendengarnya, mereka sangat gembira, terlebih George. Ternyata, lembaran itu adalah peta harta. Dimana tempatnya adalah Pulau Kirrin, pulau milik George.

Mereka menyalin peta itu, karena peti dan seisinya akan dikembalikan lagi ke Paman Quentin. Mereka mempelajari jiplakan peta. Mereka ingin bertualang di ruang bawah tanah Pulau Kirrin.

Karena menganggap isinya tidak penting, Paman Quentin menjual peti beserta isinya ke seorang pengumpul barang antik. George sangat marah karenanya. Selain karena merasa dihianati, ia juga takut kalau rahasianya tentang logots terbongkar.

Setelah dibujuk Julian, akhirnya kemarahan George mereda. Mereka akan bertualang mencari logots besok.

Keesokan harinya, mereka bergegas menuju Pulau Kirrin. Sesampainya disana, mereka mulai mencari ruang bawah tanah yang dimaksudkan peta yang telah mereka jiplak. Mereka mencari sumur tua untuk mempermudah menemukan ruang bawah tanah

Setelah lama mencari, mereka menemukan sebuah lubang kelinci. Tak disangka, ternyata lubang kelinci itu adalah sumur tua yang mereka maksudkan. Sumur itu sangat dalam.

Saat Julian, Dick, dan George sibuk menyekop, Anne duduk untuk beristirahat. Tanpa sengaja ia menyentuh benda keras dan dingin. Ia memanggil kedua kakak dan sepupunya.

Dengen segera mereka menghampiri Anne dan mulai menyekop bagian yang dimaksudkan Anne. Ternyata ada sebuah gelanggang besi ditengah batu.

Bersamaan mereka menarik gelanggang tersebut. Hal itu terasa berat mereka lakukan. Namun karena semengat mereka, akhirnya batu itu berhasil di buka. Tedapat lubang. Mereka sangat gembira, karena memang itulah jalan menuju ruang bawah tanah yang mereka cari.

Mereka masuk kedalamnya. Mereka mencari dimana emas yang sangat mereka idamkan itu berada. Diterangi cahaya senter, mereka mulai menelusuri lorong- lorong didalamnya.

Mereka menemukan sebuah pintu yang besar. Mereka mencoba membukanya, namun naas pipi Dick terkena suatu benda yang keras dan tajam. Pipi Dick berdarah karenanya.

Karena tak tega melihat adiknya, ia meminta Anne untuk membawa Dick ke atas. Dick yang sebenarnya tidak ingin meninggalkan saat- saat berharga itu menurut. Anne sangat cemas melihat abangnya.

Julian dan George tetap berusaha membuka pintu tua itu. Dengan bantuan kapak akhirnya sesuatu yang menutup pintu terlepas. Mereka berdua mendorong pintu itu. Didalamnya, mereka menemukan karung- karung dan peti- peti. Didalam karung itu terdapat benda berwarna cokelat kekuning- kuningan.

Emas! Ya, benda berkarung- karung itu adalah emas. Betapa gembira hati mereka. Namun, terdengar derak kaki orang. Julian mengira itu Dick dan Anne. Ia berteriak memberitahu bahwa ia dan George sudah menemukan emas.

Dugaan Julian salah besar. Orang itu bukanlah kedua adiknya, namun ternyata pembeli pulau yang mencari emas. Orang tersebut membawa satu temannya. Mereka menyuruh George untuk menulis surat pada kedua sepupunya. Surat itu berisi bahwa Dick dan Anne harus kebawah, karena mereka sudah menemukan emas.

Dengan wajah cemberut, George menulis surat itu. Namun, betapa cerdiknya George, dalam tanda- tangannya ia tak membubuhkan nama George, melainka Georgina. Ia berharap semoga kedua sepupunya mengerti maksdnya.

Setelah itu, surat diselipkan di leher Tim. Tim berlari menuju tempat Dick dan Anne. Setelah sampai disana, kedua anak itu membaca surat yang ditulis George. Anne sangat gembira membacanya. Ia mengajak Dick cepat turun ke bawah. Namun, Dick merasa ada sesuatu yang aneh pada surat itu. Setelah diteliti, Ya, nama yang tertera. Ia pun menyelidiki jangan- jangan ada orang lain di pulaunya. Ternyata benar dugaanya, ada perahu motor mendarat di pulau George dan pasti orang lain di pulau selain mereka.

Sementara di ruang bawah tanah, kedua orang itu cemas atas ketidakdatangan Dick dan Anne. Mereka memutuskan untuk naik dan mencari keduanya. Namun George, Julian, dan Tim dikurungnya di ruang dimana terdapat emas berkarung- karung itu.

Melihat kedua orang yang tak mereka kenal itu, Dick dan Anne bersembunyi di dalam sumur. Didalam sumur, Dick dan Anne mencoba mencari jalan untuk menyelamatkan kakak dan sepupunya. Akhirnya, Dick pun menuruni sumur untuk menemukan lorong dimana terdapat ruang berisi emas.

Usaha Dick tidak sia- sia, sesampainya di depan pintu tua, ia membuka selot. Akhirnya, Julian, George, dan Tim bisa terbebas. Bersama- sama mereka keluar dari ruang bawah tanah. Karena tak ada jalan lain selain sumur, mereka pun menaiki sumur. Anne yang sedari tadi cemas, berubah senang.

Mereka berniat akan ke Teluk Kirrin dan memberitahu semuanya kepada Paman Quentin dan Bibi Fanny. Namun, dayung- dayung perahu mera dibawa kedua orang tadi. Kedua orang tadi meninggalkan pulau dengan perahu motornya.

Tak lama kemudian, terdengar bunyi perahu motor. Ya, itu mereka. Kedua orang itu langsung menuju ruang bawah tanah. Mereka mengira kedua anak yang mereka sekap masih ada. Namun, melihat kenyataannya orang- orang itu meninggalkan ruang bawah tanah.

Mereka melihat lima sekawan merusak perahu motor mereka, dan pergi berdayung ke Teluk Kirrin.

Sesampainya di Teluk Kirrin, mereka bercerita pada Paman Quentin dan Bibi Fanny. Paman menganggap masalah ini sangat serius. Ia pun menelpon polisi dan pengacaranya.

Tak lama kemudian, polisi datang. Setelah mendengar cerita Julian,bersama- sama mereka ke Pulau Kirrin. Ternyata, orang- orang itu sudah lari. Mereka tidak jadi membawa emas.

Atas kejadian itu, Paman Quentin menjadi orang yang sangat kaya. Ia berniat menyekolahkan George di Internat yang sama dengan Anne.

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

0 comments: